Jumat, 05 Februari 2016

Mutiara senja sang qalbu

Dalam duduk ku, ku terbang bersama angin
ku terbangun di atas awan yang bergumpal
terlihat dari kejauhan sayap sayap bidadari yang terkepak
membawa ku hilang menjauh dari angan
ku tersingkir terbawa arus gelap
menangispun diriku tak kuasa menahan asap
asap pahitnya kenyataan yang berlabuh di setiap urat nadi ku yang berdetak
ku sungguh terpaku tak kuasa
tak bisa ku tolehkan pandangku manatap cerahnya langit dengan kebersamaan para bintang
aku iri dengan mereka
yang selalu bersinar walau dunia sedang dihuni gelap
aku iri dengan mereka
walau tertutup awan setelah tersibak, mereka tetap menyala
aku hanyalah manusia kecil yang berusaha berjalan di atas reruntuhan penyesalan dan ketakutan
kan ku bangun lagi mimpi mimpi yang telah lama melayang bagai debu
debu yang telah menjadikan ku terbuai salju
dalam musim semi ku berharap kemarau
dalam senja ku berharap mentari datang di awal pagi
semua harapan yang membuat ku buta
tak dapat melihat dan mengira
bahwa aku hanyalah seonggak kertas yang terbawa angin
membawa ku terombang ambing di antara tanah dan langit
yang hingga sekarang ku sesali
mengapa aku terlena dengan senyuman daun hijau yang tergeletak di antara pepohonan musim kemarau yang berguguran, aku terhentak malu
ternyata kehausan nafsulah yang menghujam ku hingga lupa birunya lautan dan betapa putihnya awan yang terhitung memanggi manggil dari hamparan langit yang tergenang..


ku moohon tuntunlah aku wahai penguasa jagad raya :(

Entri yang Diunggulkan

Hidup cuma sekali

  Hidup cuma sekali apa yang kamu cari ?   الناس سواء كأسنان المشط Adalah ungkapan hikmah yang masyhur pada masanya, “manusia itu sama s...