Jumat, 05 September 2025

Dunia menipuku menipumu

Cinta dunia dalam teropong psikologi Islam

Terlalu mencintai dunia adalah satu masalah besar yang patut diselesaikan. Mungkin lisan mereka lihai berdalih "akhirat selamanya", tetapi kehidupan dan waktu adalah CCTV tak terlihat yang nyata, waktu akan membongkar prioritas demi prioritas seseorang, apakah dunia? Ataukah akhirat? 

Seperti apa yang akan terbukti, nampak seterang mentari, dalam surat az-zalzalah ayat 4-5

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا * بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا 
(الزلزلة: ٤–٥)1

"Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) padanya.”

Bahkan pohon, batu, kayu dan tanaman, tempat-tempat, dan segala material di bumi ini, akan menjadi saksi atas apapun yang dilakukan oleh manusia selama hidup di atasnya. 

Kenapa cinta dunia ini bisa menjadi masalah? Jelas, ini merupakan masalah yang nyata, karena seseorang yang di hatinya hanya ada dunia dan menjadikan itu titik pusat kehidupannya, kausalitasnya adalah, kekosongan jiwa dan ketidakseimbangan emosional, kenapa demikian? Karena rasa takut akan mendominasi, takut mati, takut kehilangan harta, takut masa depan terancam, takut tidak bisa hidup aman, takut a, takut b, dan seterusnya. 

Inilah akibat dari cinta dunia, takut ajal, takut berjuang, takut susah, takut ujian, takut masa depan terlantar, padahal dunia hanya sebentar, dunia hanya sesaat, pikiran dan jiwa sesak oleh segala hal yang mengarah ke dunia, berpusat pada materi yang fana, meskipun banyak yg sadar bahwa dunia tidak selamanya. 

Apakah kita lupa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihiwasallam dalam haditsnya yang masyhur dalam sahih Abi Dawud dari Tsauban Radiyallahu anhu, Nabi bersabda. 

يُوشِكُ الأممُ أن تداعَى عليكم كما تداعَى الأكَلةُ إلى قصعتِها . فقال قائلٌ : ومن قلَّةٍ نحن يومئذٍ ؟ قال : بل أنتم يومئذٍ كثيرٌ ، ولكنَّكم غُثاءٌ كغُثاءِ السَّيلِ ، ولينزِعنَّ اللهُ من صدورِ عدوِّكم المهابةَ منكم ، وليقذِفَنَّ اللهُ في قلوبِكم الوهْنَ . فقال قائلٌ : يا رسولَ اللهِ ! وما  الوهْنُ ؟ قال : حُبُّ الدُّنيا وكراهيةُ الموتِ

“Hampir tiba masanya umat-umat (lain) akan saling memanggil untuk menyerbu kalian, sebagaimana orang-orang yang lapar saling memanggil untuk menyantap hidangan mereka.”2

Seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kita yang sedikit pada waktu itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Bukan, bahkan pada waktu itu kalian banyak, tetapi kalian hanyalah seperti buih di atas lautan. Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Dia akan melemparkan ke dalam hati kalian penyakit al-wahn.” 

Ada yang bertanya: “Apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Cinta dunia dan benci kepada kematian.” 

𝕄𝕒𝕤𝕒 𝕚𝕥𝕦 𝕥𝕖𝕝𝕒𝕙 𝕝𝕒𝕞𝕒 𝕥𝕚𝕓𝕒 𝕕𝕒𝕟 𝕜𝕚𝕟𝕚 𝕜𝕚𝕥𝕒 𝕓𝕖𝕣𝕒𝕕𝕒 𝕕𝕚 𝕕𝕒𝕝𝕒𝕞𝕟𝕪𝕒
ᴅᴀɴ ɪᴛᴜ sᴇᴍᴜᴀ ᴀᴋɪʙᴀᴛ ᴅᴀʀɪ ᴄɪɴᴛᴀ ᴅᴜɴɪᴀ ʟᴜᴘᴀ ᴀᴋʜɪʀᴀᴛ 
ᴍᴇᴍᴀʏᴏʀᴋᴀɴ ᴍᴀᴛᴇʀɪ ᴅᴀɴ ᴍᴇᴍɪɴᴏʀᴋᴀɴ sᴘɪʀɪᴛᴜᴀʟ

Mental akan kelelahan, gelisah akan menjadi bayangan, dan rasa, tidak akan pernah merasa puas, sedikit beryukur, perasaan merasa kurang akan terus berdatangan. 

Sehingga hati menjadi keras, rasa menjadi kompong dan kosong, empati terkikis, karena semestanya hanya berporos pada dirinya dan harta benda yang dia cintai, sehingga muncullah peribahasa, 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶, hidup bergelimang harta namun hati tak bahagia. 

Begitu pula dalam hubungan sosialnya, dia akan menjadi egois tak kepalang, tamak, kikir dan perhitungan, karakter yang merupakan bagian dari sifat-sifat tak terpuji dalam Islam, kenapa? Karena hati dan pikirannya bising oleh suara-suara materi, sehingga akhirat tertindih jauh di dalam gelap terinjak-injak keramaian dunia dan isinya. 

Mati menjadi momok paling menakutkan, hidup tersesat kehilangan tujuan, ibadah hambar tak membekas di hati, jangankan manisnya, pahitnya pun tak terasa, hubungan sosial hanya sekedar relasi materialistis, simbiosis parasitisme "aku ada jika kau ada manfaat untuku" Jauh sekali dari prinsip prinsip ketulusan yang dijadikan pondasi kokoh oleh Islam. 

Padahal dunia itu tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk yang bisa menjadi racun bisa menjadi penawar, dia akan meracuni saat kau buta karenanya, dan dia akan mengobati jika kau mampu menggenggam dan mengaturnya. 

Jadi ingat, sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dari sahabat Sahl bin Sa'ad as-Sa'idi al-Anshari yang diikhroj oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah. 

«لو كانت الدنيا تعدل عند الله جناح بعوضة ما سقى كافراً منها شربة ماء»
(“Seandainya dunia seberat sayap nyamuk di sisi Allah, tidak akan diberi seorang kafir sesendok pun (darinya) ") 

Bahkan lebih parah daripada itu, dunia ini di sisi Allah, lebih buruk daripada 𝚋𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚒 𝚑𝚎𝚠𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚌𝚊𝚝𝚊𝚝  

“الدنيا وما فيها أذلّ وأحقر عند الله من جيفة الحيوان المعيب...”

(“Dunia dan seluruh isinya lebih hina dan rendah di sisi Allah daripada seekor bangkai hewan yang cacat.”)3

𝙰𝚙𝚊 𝚜𝚒𝚑 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚗𝚊𝚛𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚋𝚊𝚗𝚐𝚐𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊???? 


"Wahai manusia kenali dirimu, ialah kaki tangan tubuhmu, duniamu taklah terlalu lama, akhiratmu pasti datang segera" 

Abul 'Atahiah, Abu Ishaq Ismai bin al-Qasim pernah bersenandung dalam syairnya 

إِذا ما خَلَوتَ الدَهرَ يَوماً فَلا تَقُل
‎خَلَوتُ وَلَكِن قُل عَلَيَّ رَقيبُ
‎Jikalau kau menyendiri suatu hari nanti
‎Jangan katakan aku sendirian
‎Tapi katakanlah Yang Maha Mengawasi
‎senantiasa mengawasiku4






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Hidup cuma sekali

  Hidup cuma sekali apa yang kamu cari ?   الناس سواء كأسنان المشط Adalah ungkapan hikmah yang masyhur pada masanya, “manusia itu sama s...