Rabu, 25 April 2018

Ambiguitas Sebuah Entitas



Malamku terasa semakin mencekam
Keringatku membeku setelah menguap bersama nafas yang memburu

Aku tercengang ribuan kali
Memutar arah langkah kaki
Menjelma jadi kerikil yang diinjak-injak raksasa tak berhati

Wahai Sajak-sajak ku hanya dikau yang setia menemani
Bait-bait ku hanya dirimu yang tak lekang oleh masa senantiasa mengusap peluhku

Keluh kesahku silih beradu
Dengan tatapan mata lalat yang melintas di hadapanku

Aku merasa tenggelam
Dipijak pasak bumi
Aku seakan merasa hilang

Dibawa terbang angin kerajaan
Tapi aku sama sekali tak butuh  dengan mahkota
Aku hanya benci jika mahkota jauh lebih dihargai dari orang yang mengenakannya

Bukanlah bodoh namanya seseorang yang berbalik dan terjatuh kembali di lubang yang sama dua kali

Tapi disanalah akan ada pelajaran tambahan yang akan mengisi kekosongan ruang yang terus berputar di sekitar

Aku masih berharap dan menunggu
Mendengar secercah bisikan terang yang menyelubungkan diri bergerak melesat di atas jalur lintas pelangi di kala senja





Selasa, 24 April 2018

Penduduk surga yang terdampar

Angin malam yang berbisik padaku
Jangan terlalu sering bercumbu dengan gelap
Karena cahaya akan melenyapkannya 
Jangan pula kau terlnea bersenda gurau dengan terang
Bisa saja kau disilaukan olehnya
Jadilah tenang di tengah lautan 
Meski di pesisir gemuruh ombak berdeburan menabrak karang
Bertubi-tubi datang menghantam bebatuan
Tapi sempitnya perahumu di pusat bumi 
Sama sekali tidak tergoncang sedikitpun

Tak gentar walau laut beeteriak
Tak mundur meski langit menghimpit
Selalu merasa lapang walau sebenarnya tak ada ruang

Itulah penafsiran garis tangan jalan hidup seorang anak adam yang mengarungi getar getir kehidupan seorang diri dengan gagah berani menantang arah angin berlawanan

Karena jalan yang ditempuh adalah lorong kebenaran 

Puncak yang didaki adalah bukit keabadian

Di atas sana telah lama menunggu kedatangan 
Manis bersila menatap depan
Uluran tangan keberhasilan 
Setelah ribuan tetes cucuran peluh menyuburkan tanaman 

Alam memelukku erat
Langit menyambutku hangat
Sedangkan isi bumi sedulu kala mencampakkanku begitu saja

Tapi ku tetap tak perduli dengan sayap lalat yang beracun

Tetap melesat ke arah terbitnya fajar
Walau membara panasnya
Tetap bermanfaat bagi makhluk kecil di atas tanah yang terbentang...

Entri yang Diunggulkan

Hidup cuma sekali

  Hidup cuma sekali apa yang kamu cari ?   الناس سواء كأسنان المشط Adalah ungkapan hikmah yang masyhur pada masanya, “manusia itu sama s...