Angin malam yang berbisik padaku
Jangan terlalu sering bercumbu dengan gelap
Karena cahaya akan melenyapkannya
Jangan pula kau terlnea bersenda gurau dengan terang
Bisa saja kau disilaukan olehnya
Jadilah tenang di tengah lautan
Meski di pesisir gemuruh ombak berdeburan menabrak karang
Bertubi-tubi datang menghantam bebatuan
Tapi sempitnya perahumu di pusat bumi
Sama sekali tidak tergoncang sedikitpun
Tak gentar walau laut beeteriak
Tak mundur meski langit menghimpit
Selalu merasa lapang walau sebenarnya tak ada ruang
Itulah penafsiran garis tangan jalan hidup seorang anak adam yang mengarungi getar getir kehidupan seorang diri dengan gagah berani menantang arah angin berlawanan
Karena jalan yang ditempuh adalah lorong kebenaran
Puncak yang didaki adalah bukit keabadian
Di atas sana telah lama menunggu kedatangan
Manis bersila menatap depan
Uluran tangan keberhasilan
Setelah ribuan tetes cucuran peluh menyuburkan tanaman
Alam memelukku erat
Langit menyambutku hangat
Sedangkan isi bumi sedulu kala mencampakkanku begitu saja
Tapi ku tetap tak perduli dengan sayap lalat yang beracun
Tetap melesat ke arah terbitnya fajar
Walau membara panasnya
Tetap bermanfaat bagi makhluk kecil di atas tanah yang terbentang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar